Sijeruk, 16 Juli 2025 — Semangat kebudayaan dan spiritualitas berpadu dalam sebuah peristiwa budaya yang memikat di Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara. Rabu, 16 Juli 2025, desa ini menyelenggarakan Kirab Pusaka Mbah Khayal dan Tombak Sikunang, disusul dengan Pagelaran Ruwat Bumi sebagai bentuk rasa syukur atas berkah alam dan perlindungan leluhur. Namun, yang menjadikan momen ini terasa lebih sakral adalah ritual turunnya 7 putri dari kahyangan yang membawa air suci dari 7 sumber mata air untuk prosesi mesusi beras.
Ritual Sakral: Tujuh Putri Membawa Air dari Tujuh Sumber
Sebelum kirab dimulai, sekitar pukul 07.00 WIB, Puntuk Sigot Desa Sijeruk menjadi saksi dilangsungkannya ritual adat yang sakral dan penuh makna. Tujuh gadis berpakaian bak seorang putri dan berselendang warna-warni melambangkan tujuh putri dari kahyangan, berjalan beriringan membawa kendi berisi air dari tujuh sumber mata air keramat yang tersebar di sekitar wilayah desa.
Air dari ketujuh sumber ini kemudian digunakan untuk prosesi mesusi beras, yaitu pensucian beras secara simbolis. Beras yang telah dimandikan dengan air suci tersebut akan dimasak menjadi tumpeng dalam ritual Ruwat Bumi. Prosesi ini melambangkan pembersihan jiwa, kesucian niat, dan permohonan berkah dari bumi dan langit.
Kirab Pusaka: Mengiringi Warisan Leluhur
Setelah ritual selesai, kirab pusaka dimulai dari Puntuk Sigot Desa Sijeruk dengan iring-iringan yang dipenuhi semangat dan keagungan budaya. Dua pusaka sakral — Mbah Khayal dan Tombak Sikunang — dikirab dengan pengawalan khusus oleh para tokoh adat dan perangkat desa.
Peserta kirab terdiri dari pelajar, masyarakat umum, kelompok seni, dan perangkat desa yang mengenakan pakaian adat Jawa. Tak ketinggalan gunungan hasil bumi, kesenian tradisional mengiringi perjalanan kirab keliling desa, menjadikan suasana begitu semarak namun tetap khidmat.
Ruwat Bumi: Doa dan Syukur untuk Alam
Setelah kirab, acara berlanjut di Lapangan Desa dengan prosesi Ruwat Bumi. Doa bersama dipimpin oleh tokoh agama dan sesepuh desa, dengan tumpeng dari beras suci dan berbagai sajian hasil bumi sebagai lambang syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah, keselamatan, dan hasil pertanian yang melimpah.
Gunungan hasil bumi kemudian didoakan dan dibagikan kepada warga sebagai simbol berkah dan keberkahan yang harus disyukuri bersama.
Wayang Kulit: Hiburan yang Sarat Makna
Puncak acara ditutup dengan Pagelaran Wayang Kulit yang digelar semalam suntuk. Dalang lokal membawakan lakon bertema perjuangan, kebijaksanaan, dan pentingnya menjaga hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Selain sebagai hiburan, wayang ini menjadi sarana edukasi nilai-nilai moral dan kebudayaan kepada generasi muda.
Kepala Desa: “Ini Warisan Leluhur yang Harus Kita Lestarikan”
Dalam sambutannya, Kepala Desa Sijeruk menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada seluruh warga yang telah menjaga dan menghidupkan kembali tradisi luhur ini. “Kirab Pusaka dan Ruwat Bumi bukan hanya seremoni budaya, tapi pengingat bahwa kita hidup berdampingan dengan alam dan sejarah. Ritual tujuh putri dan mesusi beras adalah wujud permohonan kita agar desa selalu dalam lindungan dan berkah,” ujarnya.
Kirab Pusaka Mbah Khayal dan Tombak Sikunang serta Ruwat Bumi Desa Sijeruk 2025 bukan hanya seremoni tahunan, tetapi perwujudan nyata dari identitas budaya, spiritualitas, dan solidaritas warga. Ritual tujuh putri membawa air dari tujuh sumber menjadi simbol suci yang memperkuat makna seluruh rangkaian acara. Tradisi ini diharapkan terus hidup, lestari, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai warisan tak ternilai dari bumi Sijeruk.
NUKI
21 April 2022 12:49:19
Sejarahnya bagus...